Minggu, 14 Februari 2010

ACT 08 : Gone For Truth!

Lima hari sudah Diki, Zimi, dan Gumy pergi meninggalkan barrak Xian. Di barrak pun terpampang dengan jelas poster ketiga orang tersebut sebagai orang yang dicari dengan imbalan tiga ratus ribu Hazen.
Sedangkan ketiga orang itu sedang berlari menuju kota Ardent untuk mengambil A.G.S. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan seorang lelaki penjual baju bekas.
“Hey Diki, bagaimana kalau kita membeli baju bekas ini? Nampaknya kita sudah tak cocok lagi menggunakan baju perang Xian ini.” Usul Gumy.
“Kau benar. Ayo kita beli.” Kata Diki sambil mendekat kepada lelaki tersebut. “Pak, berapakah satu baju ini?” tanya Diki.
“Murah. Cukup 300 Hazen.” Kata lelaki itu.
“Hah? Mahal sekali! Kami ingin membeli 3 pasang baju. Apa tidak bisa dikurangi harganya?”
“Umm… bagaimana ya?” pikir lelaki tersebut.
“Bagaimana kalau kami menukarkan baju kami dengan baju tersebut?” tanya Diki.
“hmm…” pikir lelaki tersebut. “Baiklah… aku turunkan jadi 100 Hazen per baju. Bagaimana?”
“Hah?! Tapi kami betul-betul tidak ada uang sebanyak itu.”
“memang berapa yang kalian punya?” tanya lelaki itu. mendengar hal itu, Diki langsung mendekati Zimi dan Gumy. Tak lama Diki kembali mendekati lelaki tersebut.
“kami punya 95 Hazen…. Bagaimana?” tanya Diki.
“baiklah, untuk kali ini aku akan memberi kalian cuma-cuma karena kesulitan uang kalian. Sini baju kalian…” minta lelaki tersebut. Diki dan kaawan-kawan mengangguk dan segera mengganti baju perang Xian mereka dengan baju bekas yang mereka beli.
“Ki… bajuku agak besar…..” kata Zimi.
“Bajuku juga… terlalu sempit….” Kata Gumy.
“Apalagi aku, sudah banyak yang bolong. Tapi tahankan saja dulu.” Kata Diki mencoba menghibur kedua temannya.
“tapi ini cukup untuk kalian kan. Kalau begitu, terima kasih atas transaksinya!” kata lelaki tersebut lalu pergi meninggalkan mereka bertiga.
“Ayo! Waktu kita mepet!” Seru Diki.
* * *
Diki dan kawan-kawan akhirnya sampai di kota Ardent. Merek bertiga takjub dengan kota yang dulu hancur oleh gempuran Fenrir, kini sudah menjadi kota yang indah kembali. Nampak di papan pengumuman sana, sebuah poster besar terpajang foto Diki, Zimi, dan Gumy sebagai orang yang dicari-cari dengan imbalan 300.000 Hazen.
“Aw… 300.000 Hazen…” pikir Gumy.
“disini disebutkan bahwa kita sangat berbahaya dan memiliki kekuatan mistis…” kata Zimi.
“dan yang lebih penting lagi…. Fotoku kok jelek kali ya?” tanya Diki. Zimi dan Gumy yang mendengar hal tersebut hanya mendengus sambil geleng-geleng kepala.
“Lebih baik kita cari penginapan murah sebelum mencuri A.G.S. mungkin kita harus melihat keadaan kota Ardent. Paling tidak kita bisa meninggalkan kota Ardent tanpa ada warga sipil yang terbunuh.” Kata Zimi.
“bagaimana kalau penginapan itu?” tanya Diki sambil menunjuk sebuah penginapan kecil di sebrang jalan.
“Ayo kita coba.”
Diki dan kawan-kawan masuk ke dalam penginapan tersebut. Yang mereka lihat di penginapan tersebut tidak banyak. Ada tiga sofa di pojok kanan ruangan dengan meja yang dikelilingi sofa tersebut. Di sana juga terdapat sebuah mesin minuman dan sebuah meja game virtual. Di sisi kiri ruangan terdapat tangga dan meja resepsionis. Diki langsung pergi menuju resepsionis.
“Halo, kami ingin memesan kamar. Kalau boleh tahu, berapa harga sewa selama satu hari?” tanya Diki.
“Tentu, harganya 20 Hazen per kamar. Berapa lamakah anda akan tinggal?” tanya resepsionis tersebut.
“Mungkin 3 hari. Kami ada keperluan dengan para specialist yang berada di sini.” Kata Diki.
“baiklah, kalau boleh tahu, siapa saja yang anda bawa?”
“kedua temanku. Kami menyewa satu kamar saja.”
“Baiklah, silahkan ikut saya ke kamar anda.” Ajak resepsionis tersebut. Diki mengangguk dan mengikuti resepsionis tersebut. Zimi dan Gumy memilih untuk tetap berada di sana agar bisa melihat keadaan. Setelah beberapa lama, akhirnya Diki sampai di kamarnya.
“ini kamarnya tuan. Kalau boleh tahu, siapa nama tuan?” tanya Resepsionis tersebut. Diki terkejut mendengar pertanyaan tersebut.
“Namaku…ah..eh… Zuko. Ya Zuko.” Jawabnya gelagapan.
“Baiklah, tuan Zuko. Semoga hari anda menyenangkan.” Kata resepsionis tersebut sambil tersenyum. Dia lalu meninggalkan Diki setelah memberikan kunci kamarnya. Hmm… aku tak menyangka kalau nama akan ditanyakan. Untung saja aku ingat nama adikku. Diki memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya. saat masuk ia melihat tempat tidur besar di pojok kanan, Televisi di sebelah kanannya. Lalu sebuah sofa panjang berhadapan dengan televise tersebut. Lalu kamar mandi terletak di sammping kanan pintu masuk.
“Lumayan. Lebih baik ku suruh ketiganya untuk naik ke kamar.” Kata Diki. Ia pun pergi menuju lantai satu.
Di lantai satu, Diki melihat Zimi dan Gumy sedang berbicara dengan seseorang. Nampaknya ada perseteruan di antara ketiganya. Diki pun bergegas ke arah ketiga orang tersebut.
“Hey, ada apa ini!?” tanya Diki.
“Orang ini mencari gara-gara dengan kita. Ia bilang kalau kita tidak pantas tinggal di penginapan ini.” Jawab Gumy penuh emosi.
“Tentu, baju kalian sangat mencerminkan diri kalian. Lebih baik kalian tinggal di jalanan daripada tinggal di penginapan ini. Mana cukup uang kalian untuk membayar penginapan.” Sela laki-laki itu sombong. Mendengar itu, kuping Zimi memerah. Tak biasanya ia marah-marah oleh perkataan orang.
“KAU! AKAN KUHAJAR KAU!” teriak Zimi. Untunglah Diki menahannya.
“Zimi, tenanglah…” bisik Diki. Lalu ia berbicara kepada lelaki itu. “Hey, apa urusanmu pada kami?”
“Tentu saja, aku ingin mengingatkan kalian agar kalian tidak tinggal di sini.”
“Apa urusannya denganmu?”
“Kau hanya akan mengotori tempat ini.” Katanya dengan nada sinis. Orang-orang di sekitar tempat tersebut tertawa mendengarnya. Nampaknya itu adalah kawanan laki-laki tersebut.
“Jadi, kau ingin kami pergi? Maaf, kami tidak bisa.”
“hah, orang miskin mau tinggal di penginapan? Tidak salah? Apa kau sudah gila?” tanya laki-laki tersebut. Mendengar itu, gantian Diki yang memerah kupingnya. Namun ia masih berusaha bersabar.
“Bisakah kau pergi? Kau menganggu kami.”
Laki-laki tersebut mendekati Diki, ia memukul dada Diki. “Apa? Tidak salah dengar?” mendapat perlakuan tersebut, Diki naik pitam. Ia mendorong laki-laki tersebut dengan keras.
“Kau…..Kau…..” kata Diki. Sejurus kemudian ia mengambil Olympus yang terselempang di punggungnya. “Keputusanku sudah bulat, Kau harus mati!” kata Diki sambil memegang Olympus dengan perasaan penuh amarah.
“Kalian, serang!” teriak laki-laki tersebut. Dua orang berbadan besar maju menyerang Diki. Diki dengan sigap menghindar dan mendorong mereka keluar dari penginapan agar tidak terjadi peperangan di dalam penginapan.
Kedua orang tersebut sangat keras kepala, mereka kembali bangkit dan menyerang Diki. Diki yang memang dari tadi sudah marah menumpahkan amarahnya kepada kedua orang tersebut. Ia menebas keduanya dengan jurus Thunder motion dan Scandav’s disgrace. Kedua orang tersebut langsung pingsan. Melihat anak buahnya sudah tak berdaya, ia memerintahkan anak buahnya yang lain untuk menyerang Diki. Tak tahan melihat Diki di keroyok, Zimi dan Gumy melancarkan serangan dadakan dengan menggabungkan Explosive rainstorm dan Mailgarm of Destruction. Akibat serangan tersebut, orang yang menyerang Diki tadi terbang ke langit. Diki segera menyambut musuhnya dengan gerakan yang cepat, ia menggunakan Slash of Madvier di kombinasikan dengan Flying Angel of Salazar. Serangan tersebut mengenai mushnya dengan telak.
Musuh lain yang tidak ikut terbang telah bangkit kembali dan menyerang ketiganya. Zimi siap dengan kuda-kudanya, ia mengelak serangan musuhnya dan dengan seketika ia memukul telak perutnya dan dengan seketika tendangan telak mengenai wajahnya. Ia tumbang seketika. Tak tahan dengan pembantaian anak buahnya, lelaki tersebut maju menyerang. Gumy dengan segera menggunakan Thunder Bolt, ia langsung tersambar petir. Diki segera melancarkan serangan berantai dengan jurus Almighty Murderer, di sambung dengan serangan Chained Arrow oleh Zimi dan di akhir dengan Blasted Sun Beam oleh Gumy. Ia terjerembab ke tanah, tak berdaya.
“Kau…. Kau harus mati!!!” teriak Diki dengan amarah yang memuncak. Untunglah sebelum ia melaksanakan keinginannya, Zimi dan Gumy segera menahan gerakan Diki.
“Diki, sudahlah. Ia sudah kalah.” Kata Zimi.
“Ya, kau tak perlu meladeninya lagi.” Lanjut Gumy. Mendengar perkataan temannya, Diki mengurungkan niatnya.
“Kalau begitu, PERGI! Jangan pernah muncul di depan kami lagi! Atau kau akan mati!” Diki memberikan ultimatum kepada lelaki tersebut. Lelaki tersebut bangkit lalu lari terbirit-birit.
“Dasar!” kata Diki lalu masuk ke dalam penginapan. “Ayo kita ke kamar, Zimi, Gumy…” ajak Diki. Keduanya mengangguk lalu mengikuti langkah Diki. Semua orang di lantai pertama hanya melongo seperti yang baru saja melihat orang hidup lagi dari kematian.
* * *
Malam hari, Diki, Zimi, dan Gumy keluar untuk melihat base tempat para Specialist Xian menyimpan A.G.S. Mereka berencana untuk mengambilnya lalu pergi dari kota ini dengan segera.
Mereka mulai menyusuri kota, lama sekali. Namun, mereka akhirnya menemukan A.G.S yang sedang di perbaiki oleh para Specialist Xian. Mereka nampaknya pekerja Shift malam. Tiba-tiba Olympus bercahaya.
“Diki? Apa yang bercahaya di punggungmu?!” tanya Gumy terkejut.
“Hah?” Lalu Diki melihat punggungnya. “Olympus? Kenapa ia bercahaya?” tanya Diki.
“Kau tak tahu juga? Aneh….” Kata Gumy.
“Hey, lihat! A.G.S itu juga bercahaya!” seru Zimi. Mendengar perkataan Zimi, Diki dan Gumy segera melihat ke arah A.G.S. Benar saja, A.G.S tersebut bercahaya terang.
“Aku telah melihat bagianku kembali…”
“Hah? Siapa yang bicara?” tanya Gumy.
“Kau mendengar perkataanku?” tanya suara tersebut.
“Gumy, Diki, kau dengar suara itu kan?” tanya Zimi.
“Kau juga?” tanya Gumy.
“Ka-kalian mendengarnya?” tanya Diki kebingungan. Keduanya mengangguk. “kalau begitu, kita kembali ke penginapan. Akan aku beritahu kalian sesuatu.” Ajak Diki. Wajahnya berubah menjadi cemas. Ia berkeringat dingin.
Mengapa kau bicara dengan suara keras, Olympus? Kau membuatku harus mengatakan tentang kau! Tanya Diki pada Olympus dalam hati. Namun Olympus tidak menjawab. Kembali ia mengulangi pertanyaan yang sama, namun tetap Olympus tidak menjawab. Akhirnya Diki dan kawan-kawan kembali ke penginapan. Di sana ia menceritakan semua yang terjadi. Tentang Olympus, Relic, A.G.S, lima segel, serta orang dalam ramalan yang ia sendiri juga tak tahu apa maksudnya.
“Apa? Jadi Olympus ini bisa bicara?” tanya Zimi tak percaya.
“Ya, tapi seharunya suaranya hanya bisa didengar olehku…. Ini aneh…” Jawab Diki. Gumy yang mendengar apa yang dikatakan Diki, ia segera mendekati Olympus dan mulai memeriksanya dengan teliti.
“Hey! Apa yang kau lakukan?” tanya Diki
“Hmm…. Aku tidak yakin dengan apa yang kau ucapkan, Diki…” jawab Gumy menunjukkan keraguannya. Tiba-tiba pedang Olympus bercahaya dan melayang.
“Kau bisa mendengarku juga?”
“HAH! Pe-pedang itu bicara!!!” Teriak Gumy.
“Jadi ramalan itu benar. Tidak hanya satu orang yang akan menjadi penyelamat.” Kata Olympus.
“Maksudmu?” tanya Diki.
“Hanya orang yang terpilih yang bisa mendengar ucapanku. Aku pun tidak tahu kalau sang penyelamat bukan hanya satu orang.” Jawab Olympus.
“Apa maksudmu kalau kami berdua juga terpilih?” tanya Zimi.
“Berarti, suatu saat kalian akan menemukan Relic yang akan menjadi partner kalian dalam pertempuran. Dan Diki, aku akan memberitahukanmu satu hal.” Kata Olympus.
“Apa itu?” tanya Diki.
“Suatu saat, kau harus memiliki Rune Symbolic.” Kata Olympus.
“Rune Symbolic? Apa itu?”
“Itu adalah Simbol Rune sebagai pemilik Relic. Simbol tersebut adalah syarat penting sebelum menggunakanku.”
“Apa maksudmu?!” tanya Diki.
“Seharusnya di pertempuran tadi siang, kau sudah mati saat mengeluarkan jurus yang belum pernah kau pelajari sebelumnya. Namun, karena kau menggunakan Runic Symbolic Synthetic, kau bisa selamat.”
“Apa lagi itu?” sela Zimi.
“Force glove di tangan kalian memiliki kristal. Kristal itulah yang disebut Runic Symbolic Synthetic. Membuat tiruan Rune Symbolic agar pemakainya bisa menggunakan senjata yang hebat, sekelas Relic. Namun, kekuatan itu adalah tiruan. Suatu saat pasti akan hancur. Maka daripada itu, kau harus memiliki Rune Symbolic!”
“Bagaimana caranya?” Tanya Gumy. “kau pasti tahu caranya kan?”
“Sebenarnya Rune Symbolic sudah berada dalam diri sang terpilih masing-masing. Dia harus dibangunkan dari tidurnya. Aku tak tahu cara membangunkannya. Namun biasanya, sang terpilih akan mengalami suatu pengalaman yang membuat Simbl tersebut muncul.”
“….maksudmu, sama seperti segel Relic?” tanya Diki.
“Hampir mirip, namun segel Rune Symbolic sangat sulit dibuka dan tidak ada yang tahu cara membukanya. Setiap sang terpilih memiliki caranya sendiri untuk membuka segel symbol tersebut.” Terang Olympus.
“hmm… Aku tak begitu percaya tentang yang terpilih… hanya saja, kita harus melihat keadaan sekarang ini. Semakin lama kita berada di kota ini, kita semakin membahayakan penduduk di sini.” Kata Zimi.
“Kau benar, tujuan utama kita adalah pergi meninggalkan kota ini. Kalau begitu, siang besok kita akan menyelinap masuk ke tempat A.G.S di simpan.” Kata Diki.
“Kalau begitu, kami akan berusaha memancing perhatian penjaga agar bisa keluar dari pos penjagaannya. Usahakan kau melakukannya dengan cepat, Diki! Aku tak yakin bisa menahan mereka lama. Specialist kita terkenal akan kemampuan membuat senjata yang sangat kuat. Kami yang hanya mengandalkan kekuatan force glove belum tentu sanggup menahan serangan mereka.” Ingat Gumy.
“Aku mengerti. Berapa uang kita yang tersisa sekarang?” tanya Diki.
“kemungkinan sekitar 40 Hazen.” Kata Gumy sambil menghitung uang di kantung kain yang dibawanya.
“besok, beli semua keperluan kita. Lalu kita akan segera melarikan diri dari sini.” Ajak Diki.
* * *
Pagi hari, Diki sudah berada di meja resepsionis untuk check-out dari penginapan sedangkan Zimi dan Gumy pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan sebelum melaksanakan rencana mereka. Di pasar, Zimi dan Gumy menuju ke sebuah pembuat senjata.
“Selamat pagi! Ada yang bisa saya bantu?” tanya penjaga toko tersebut.
“Saya ingin melihat benda yang bisa meningkatkan busur saya dengan harga murah.” Kata Zimi seraya memberikan busurnya yang hampir rusak.
“Hmm… nampaknya busur anda terbuat dari titanium tingkat C. memang mudah rusak, tapi aku punya solusinya. Sebentar…” lalu penjaga tersebut memeriksa sesuatu di rak yang berada di belakangnya. Setelah beberapa lama, ia menemukan sebuah benda berbentuk bola. Memiliki empat kaki untuk mengait di suatu tempat. “Mungkin ini bisa membantu.”
“apa ini?” tanya Zimi.
“Ini adalah bow-augmenter. Mesin kecil ini mampu memperkuat busur dengan menghisap semua kekuatan elemental ke dalamnya lalu menyalurkannya ke busur yang ditempelkan. Namun model ini adalah model paling usang.”
“Berapa harganya?” tanya Zimi.
“dari pakaian kalian, nampaknya kalian kurang mampu membeli senjata yang proposional. Jadi mungkin untuk model usang ini kujual dengan harga 30 Hazen saja.”
“baiklah… tolong di pasangkan.” Pinta Zimi.
“Baik.” Lalu penjaga tersebut mengambil busur Zimi. Ia pergi meninggalkan Zimi dan Gumy ke belakang. Tak lama, Busur itu kembali dengan tampilan baru, benda bulat itu sudah menempel di busur dengan disambungkan dengan kabel-kabel. “Ini dia.”
“terima kasih. Ini uangnya.” Kata Zimi seraya memberikan 30 Hazen. Lalu mereka berdua meninggalkan penjaga tersebut.
“Hei, Zim. Apa yang akan kita beli dengan 10 Hazen itu?” tanya Gumy.
“Mungkin membeli obat-obatan dan juga beberapa makanan. Aku yakin di sana kita dapat membelinya.” Kata zimi sambil menunjuk ke sebuah toko yang paling canggih dan ramai dikunjungi orang.
“ya sudah. Cepatlah ke sana. Aku akan bersiap di tempat kita berkumpul!” kata Gumy. Zimi mengangguk. Gumy lalu meninggalkan Zimi sedangkan Diki sudah berada di pintu gerbang institut penelitian Xian.
Bagaimana caranya aku masuk ke dalam ya? Pikir Diki. Lalu Gumy datang.
“pssst! Diki!” panggil Gumy.
“Gumy? Apa yang kau lakukan disitu? Ayo ke sini!” panggil Diki setengah berbisik. Gumy mengerti lalu mendekat.
“Zimi sedang belanja. Jadi rencana pengalih perhatian biar aku yang melakukan saja.” Usul Gumy.
“Kau yakin?”
“Asalkan kau cepat, aku sanggup!”
“Baiklah! Ayo bersiap di sebalah sana. Tunggu aba-abaku ya!” kata Diki memberi instruksi. Gumy mengangguk tanda setuju. Ia bergegas menuju tempat yang diintruksikan oleh Diki. Setelah beberapa lama, Diki mengangkat tangan kanannya. Gumy mengangguk lalu dengan secepat kilat ia merapal jurus.
“JAVELIN CRUSH!”
Gerbang institut pun hancur. Tak ayal lagi, alarm berbunyi.
“Diki! Segera masuk, aku akan menahan mereka. Cepat!” teriak Gumy. Diki mengangguk tanda mengerti lalu bergegas masuk ke dalam garasi penyimpanan A.G.S. “Baiklah, Ayo kita selesaikan!” Kata Gumy bersemangat sambil berlari menuju sekumpulan prajurit yang mengejar Diki.
* * *
Diki telah berada di gerbang garasi. Ia melihat lima orang bersenjata sedang menjaga garasi dengan ketat. Mereka tahu kalau aku akan mengincar A.G.S… mereka pandai juga…
Diki mengendap-endap memutari garasi untuk mencari celah. Ia menemukannya! Dengan sigap ia masuk ke celah tersebut, mengakibatkan ia berada di belakang orang-orang bersenjata tersebut. Dengan beberapa pukulan, kelima orang tersebut berhasil dilumpuhkan. Diki segera membuka pintu gerbang.
CRAAAAKKK
Pintu gerbang terbuka. Diki segera masuk ke dalam garasi. Ia meliat A.G.S berdiri dengan gagah. Tiba-tiba Olympus bercahaya.
DIKI! Segera naik ke atas pintu palka yang terbuka itu! pekik Olympus dalam batin Diki.
Yang mana? Pikir Diki sambil terus melihat sekeliling tubuh A.G.S. lalu ia melihat sebuah pintu palka di belakang tubuh A.G.S terbuka. Namun pintu tersebut tak terjangkau karena sangat tinggi. Bagaimana aku naik ke atas sana?
Ikuti tangga yang di sebelah sana! Pasti tangga tersebut membawamu ke pintu tersebut. Perintah Olympus. Diki mengikuti perintahnya lalu menaiki tangga yang mengelilingi tubuh Olympia. Baru setengah perjalanan, penjaga-penjaga yang lain masuk dan menembaki Diki.
Sial! Aku harus cepat! Batin Diki. Ia mempercepat langkahnya menuju pintu palka tersebut. Sesampainya di depan pintu tersebut, ia melompat ke dalam.
Hey! Bagaimana caranya mengoperasikan Olympia!? Tanya Diki.
Letakkan aku ke tempat berbentuk pedang itu. Jawab Olympus. Diki segera meletakkan Olympus ke sebuah tempat berbentuk pedang. Pas sekali dengan Olympus.
Lalu?! Diki semakin gelisah.
Segera Aktifkan dengan mengatakan Masterdiki, Relic Armor ONLINE! Perintah Olympus.
“BAIK! MASTERDIKI, RELIC ARMOR ONLINE!” Teriak Diki keras. Tiba-tiba pintu palka tertutup, lalu tempat Diki berada tadi bercahaya dan menjadi tempat kosong berwarna putih.
“Hah? Dimana ini?” tanya Diki.
DIKI! TENANG! SEKARANG KAU SUDAH BERGABUNG DENGAN A.G.S! APA KAU BISA MELIHAT DI DEPANMU? Tanya Olympus.
“HANYA RUANG KOSONG!” Teriak Diki.
Pikiranmu harus bergabung dengan Olympia! Perintah Olympus.
“BAGAIMANA CARANYA!?”
Kau akan tahu! Percayalah. Diki panik. Ia segera bergerak ke sana kemari. Namun ia merasakan sesuatu yang ganjil. Ia merasa seperti berjalan di tanah. Hah? Kenapa rasanya aku seperti berjalan di tanah ya? Lalu tiba-tiba badannya gatal seperti dinaiki oleh semut. Segera ia mengibaskan tangannya ke badan yang gatal. Namun ia tidak melihat adanya semut.
Apa kau sudah bersinkronisasi dengan Olympia?
“Tidak! Namun aku merasa kalau aku sedang berjalan di tanah dan seekor semut sedang berjalan dia atas tubuhku.”
Panca inderamu sudah mulai bersatu. Sekarang kau harus cepat bersatu dengan indera penglihatan Olympia! Cepat! Perintah Olympus.
Diki mengangguk. Ia berusaha untuk melihat apapun walau yang ia lihat hanyalah sebuah ruang kosong. Namun perlahan, ruangan itu berubah menjadi tempat garasi penyimpanan Olympia.
“Aku bergabung dengan Olympia?!” teriak Diki tak percaya. Namun jawaban dari teriakannya adalah tembakan dari pasukan penjaga. Diki segera berlari menghindari tembakan itu. dan rupanya, Olympia pun mengikuti apa yang ia lakukan.
Sekarang tubuh Olympia adalah tubuhmu, pendengaran Olympia adalah pendengaranmu, Mata Olympia adalah matamu. Begitu pula rasa sakitnya. Berhati-hatilah! Pesan Olympus.
“Aku mengerti!” teriak Diki. Diki segera melangkah ke belakang dan menabrak semua yang ia lewati, termasuk dinding Garasi. Di sana ia dihadang oleh 3 M.W.A.R bersenjata berat. Mereka menembaki Diki.
“AW! Sakit, SIAL!” Teriak Diki. Tampaknya peluru tersebut mengenai Diki.
Diki, teriakkan Activation Part! Speed Boot untuk mengeluarkan roda di kaki Olympia agar bisa berlari cepat. Ingat kalau energimu bisa cepat habis saat memakai ini.
“OK! ACTIVATION PART! SPEED BOOT!” teriak Diki. Lalu kaki Olympia menjadi seperti sepatu roda. Diki bergerak mendekati 3 M.W.A.R dengan cepat. Mereka menembaki Diki namun Diki berhasil mengelak dengan cepat.
“HEAAA!!” Diki memukul sebuah M.W.A.R tepat di armor perutnya. Armor tersebut hancur berantakan, lalu lanjut dengan M.W.A.R yang lain. Diki berhasil dengan Dragon Fan Kick Attacknya, melumpuhkan ketiga M.W.A.R tersebut.
“Aku merasa cepat!” teriak Diki.
Bagus! Sekarang kita harus menyelamatkan yang lain! Perintah Olympus.
“Siap!”
* * *
Di pintu gerbang, Zimi dan Gumy bertarung sengit. Mereka melancarkan kemampuan terbaik mereka dari kepungan penjaga. Gumy dengan sihirnya menggunakan skill-skill elementnya sambil terus melindungi dirinya dan Zimi dengan Force Mirror. Zimi pun tak kalah sengit mengeluarkan rainstorm untuk menjaga jarak musuh dengannya.
“Kemana Diki? Aku sudah tidak kuat lagi!” teriak Gumy.
“Bersabar Gumy! Aku yakin sebentar lagi ia datang!” Kata Zimi. Mereka kembali mempertahankan parameter mereka dari musuh. Musuh semakin banyak, mereka hampir kalah, namun di saat genting tersebut, sebuah bayangan besar bergerak dengan cepat dan menghantam semua musuh yang menyerang Zimi dan Gumy. Bayangan itu tak lain dan tak bukan adalah Diki dan Olympia.
“SEMUANYA! NAIK KE TANGANKU!” teriak Diki sambil menunduk dan mengulurkan tangannya. Zimi dan Gumy naik ke atas tangannya Olympia.
“Pegangan!” teriak Diki. Lalu Olympia ngebut! Diki memasang kecepatan penuh langsung menuju gerbang selatan kota Ardent. Secepat kilat, Olympia keluar dari kota Ardent menuju perbatasan Ferxin. Namun sayangnya, di depan sana sudah ada barikade Xian yang akan menahan Olympia.
“DIKI! APA YANG AKAN KAU LAKUKAN!?” teriak Gumy.
“Kalian pegangan! Ini akan sangat mengerikan! HEAAA!” Diki semakin mempercepat rodanya. Dalam jarak 300 meter, mereka menembaki Diki. Diki berusaha mengelak namun tetap saja beberapa peluru mengenai Diki. Semakin dekat, saat jarak 25 meter, Diki melompat! Ia berhasil melewati barikade musuh dan berjalan lurus menuju perbatasan.
Tapi, Diki merasakan getaran aneh. Sepertinya Olympia menyadari adanya musuh yang datang mendekat dengan cepat.
DIKI! CEPAT LARI! AKU MERASAKAN KEKUATAN BESAR MENUJU KE ARAH KITA!
Benar saja, sebuah laser menyerang Diki. Diki terkejut, ia menghindar dari serangan tersebut namun pundak Olympia terkena. Tak ayal, Diki menjerit kesakitan.
“AAAAAAAAGH!” Teriak Diki. Olympia terbanting, untunglah Zimi dan Gumy selamat. Ia berusaha bangkit.
“DIKI! Kau tak Apa?” tanya Gumy dan Zimi.
“Iya. Kita harus pergi dari sini. Segera! Pegangan semua!” kata Diki. Zimi dan Gumy memegang jari-jari Olympia dengan erat. Olympia pun berdiri dan dengan sigap meluncur cepat. Namun tetap saja, laser menyerang mereka dari belakang. Diki menoleh ke belakang. Sebuah bayangan gelap bergerak cepat. Diki terus menghindari serangan tersebut.
“DIKI! AWAS!”
Di depan ada sebuah batu besar! Hampir tak terelakkan, Diki dengan sigap memutar tubuhnya dan menggunakan sudut angin perubahan sebagai penolak menghindari batu besar. Dengan sukses diki melewati batu besar tersebut dan kembali melaju. Tetap, bayangan tersebut sangat keras kepala. Ia menembaki Diki dengan lasernya. Diki segera melompat menghindar. Rupanya ia menggunakan lompatan itu untuk berada di belakang bayangan tersebut. Sukses di belakangnya, Olympia ngebut untuk menghantam bayangan tersebut. Namun, tubuh bayangan tersebut berputar 180 derajat ke belakang. Diki terkejut! Bayangan itu melancarkan pukulan ke arah Olympia. Diki berhasil menahan, dan terjadilah perkelahian dengan kecepatan tinggi. Diki terdesak karena tangan satunya memegang Zimi dan Gumy. Ia mengambil inisiatif dengan menyerang roda kaki bayangan tersebut. Berhasil, bayangan tersebut berhenti mennyerang Diki. Diki segera menghindar karena hampir bertabrakan dengan bayangan tersebut dan akhirnya melewati perbatasan Ferxin.
Bayangan hitam itu berdiri. Rupanya itu adalah sejenis M.W.A namun berwarna hitam. Lalu pintu palka M.W.A hitam itu terbuka. Sesosok laki-laki muncul. Ia tersenyum memandangi batas horizon seperti sudah memenangkan sesuatu….


<> Next >